Pefindo catat penerbitan surat utang multifinance naik 19,3% hingga Mei 2026
Di tengah pergerakan pasar keuangan yang masih bergejolak, perusahaan multifinance mencatat kenaikan penerbitan surat utang hingga Rp 12,93 triliun per Mei 2026. Nilai itu setara 33,9% dari total penerbitan sepanjang 2025, menandakan aktivitas pendanaan sektor ini masih bertahan secara nominal.
Sorotan
- Pefindo mencatat penerbitan surat utang multifinance naik 19,3% year-on-year menjadi Rp 12,93 triliun per Mei 2026.
- PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk, PT Federal International Finance, dan PT Indomobil Finance Indonesia masing-masing menerbitkan Rp 2,50 triliun, menyumbang 58,0% total multifinance.
- Penerbitan surat utang multifinance per Mei 2026 setara 33,9% dari total 2025 dan mencakup 16,6% dari Rp 78,09 triliun obligasi korporasi.
Komposisi penerbitan dan kontribusi emiten utama
Seperti dilaporkan KONTAN, Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat penerbitan surat utang multifinance mencapai Rp 12,93 triliun per Mei 2026, naik dari Rp 10,84 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan kenaikan itu mencapai 19,3%.Dari sisi emiten, penerbitan terbesar berasal dari PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk, PT Federal International Finance, dan PT Indomobil Finance Indonesia, yang masing-masing menerbitkan surat utang Rp 2,50 triliun. Ketiga perusahaan itu menyumbang sekitar 58,0% dari total penerbitan multifinance per Mei 2026.
Ahmad juga menyebut penerbit besar lainnya adalah PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk sebesar Rp 1,50 triliun, PT Surya Artha Nusantara Finance sebesar Rp 1,20 triliun, dan Astra Sedaya Finance atau Astra Credit Companies sebesar Rp 1,03 triliun.
Posisi sektor multifinance dalam pasar obligasi korporasi
Jika dibandingkan dengan total penerbitan sepanjang 2025 yang mencapai Rp 38,18 triliun, realisasi hingga Mei 2026 setara 33,9%. Menurut Ahmad, angka tersebut menunjukkan aktivitas penerbitan belum melemah secara nominal, meski arah penerbitan tetap perlu dilihat bersama kondisi yield, kebutuhan jatuh tempo, dan pertumbuhan piutang pembiayaan yang masih rendah.Sejauh ini, sektor multifinance menjadi salah satu kontributor terbesar dalam penerbitan surat utang korporasi. Nilainya mencakup 16,6% dari total penerbitan surat utang korporasi yang mencapai Rp 78,09 triliun per Mei 2026.
Porsi itu lebih tinggi dibandingkan sektor pertambangan sebesar Rp 11,50 triliun, perbankan Rp 11,14 triliun, dan perusahaan induk Rp 10,57 triliun. Kondisi ini menunjukkan multifinance masih menjadi salah satu sektor penting dalam pendanaan pasar obligasi domestik.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang tekanan nilai tukar rupiah terhadap prospek pembiayaan kendaraan, kami mengulas bagaimana pelemahan rupiah berpotensi menahan permintaan kredit kendaraan dan meningkatkan risiko kualitas pembiayaan ketika harga kendaraan serta kemampuan bayar nasabah ikut tertekan. Ulasan itu juga mencatat kinerja CNAF yang menyalurkan pembiayaan kendaraan roda empat (baru dan bekas) sebesar Rp 1,97 triliun hingga April 2026, dengan proyeksi pertumbuhan yang tetap ada namun lebih moderat sepanjang 2026.
Berita Reporting Terbaru
- Forex
- Crypto