Indonesia dorong penyesuaian harga Pertamax di tengah kenaikan harga minyak global
Tekanan harga energi global mendorong pemerintah menilai harga Pertamax perlu bergerak lebih dekat ke tingkat keekonomian agar beban fiskal tidak bertambah. Langkah ini diposisikan untuk menjaga ruang anggaran bagi pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, dan pembangunan, sementara harga BBM subsidi tetap dipertahankan.
Sorotan
- Indonesia mempertimbangkan penyesuaian harga Pertamax karena kenaikan harga minyak global, untuk mengurangi beban anggaran negara akibat selisih harga pasar.
- Harga bensin RON 92 di Indonesia dinilai lebih rendah dibanding negara Asia Tenggara lain seperti Filipina Rp22.000/liter, Laos >Rp31.000/liter, Thailand hampir Rp29.000/liter, dan Singapura mendekati Rp43.000/liter.
- Pemerintah tetap menahan harga BBM subsidi seperti Pertalite di Rp10.000/liter dan biosolar di Rp6.800/liter, fokuskan penyesuaian hanya pada BBM nonsubsidi.
Alasan fiskal di balik penyesuaian
Seperti diberitakan Okezone Economy Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Digital menilai penyesuaian harga Pertamax berkaitan dengan kenaikan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan energi global. Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, mengatakan Pertamax sebagai BBM nonsubsidi mengikuti harga pasar.Fifi mengatakan bila harga Pertamax terus ditahan di bawah harga keekonomian, negara harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk menutup selisih harga tersebut. Menurut dia, kondisi itu berisiko mengurangi dana yang semestinya digunakan untuk sekolah, rumah sakit, bantuan sosial, dan pembangunan lainnya.
Perbandingan regional dan kebijakan subsidi
Dalam perbandingan dengan negara Asia Tenggara, harga bensin setara RON 92 di Indonesia disebut masih relatif lebih rendah. Fifi menyebut harga di Filipina berada di kisaran Rp22.000 per liter, Laos lebih dari Rp31.000 per liter, Thailand hampir Rp29.000 per liter, Myanmar sekitar Rp25.000 per liter, dan Singapura mendekati Rp43.000 per liter.Pada saat yang sama, pemerintah menyatakan tetap menahan harga BBM subsidi agar tidak naik. Saat ini, Pertalite dipatok Rp10.000 per liter dan biosolar Rp6.800 per liter, sehingga penyesuaian difokuskan pada BBM nonsubsidi di tengah tekanan pasar energi internasional.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang kenaikan BBM nonsubsidi Pertamina pada Juni 2026, kami mengulas lonjakan harga Pertamax dan Pertamax Green, sementara Pertalite dan Biosolar tetap tidak berubah. Kami juga menyoroti latar belakang tekanan global dan tingginya ketergantungan impor energi, serta respons kebijakan dan potensi dampaknya seperti risiko inflasi, tekanan daya beli, dan pergeseran konsumsi ke BBM bersubsidi.
Berita Italy Terbaru
- Forex
- Crypto