Papua Barat Daya dorong perluasan program cetak sawah untuk produksi pangan regional

Papua Barat Daya dorong perluasan program cetak sawah untuk produksi pangan regional
Perluasan cetak sawah Papua

Dukungan petani di Papua Barat Daya terhadap program cetak sawah menguat seiring upaya pemerintah memperluas basis produksi pangan di wilayah timur Indonesia. Aspirasi yang muncul tidak hanya menekankan pembukaan lahan baru, tetapi juga percepatan jalan produksi, irigasi, dan bantuan bagi kelompok tani agar manfaat ekonominya lebih merata.

Sorotan

  • Papua Barat Daya siapkan penanaman di 1.440 hektare lahan pada 2026, menyelesaikan sisa 3.200 hektare dari 2025, dan telah menyiapkan tambahan 5.000 hektare.
  • Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyetujui pengembangan kelapa 100 hektare di Sorong Selatan serta meminta percepatan realisasi seluruh bantuan dan program pertanian.
  • Pembangunan infrastruktur pertanian—terutama akses jalan ke kawasan produksi—jadi syarat utama agar distribusi dan manfaat ekonomi program cetak sawah berjalan optimal.

Target perluasan lahan dan dukungan petani

Seperti dilaporkan Kementerian Pertanian, dukungan itu disampaikan dalam Rapat Konsolidasi Pembangunan Pertanian Wilayah Papua Tahun 2026 bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman di Auditorium Gedung F Kementerian Pertanian pada Kamis, 11 Juni 2026. Dalam forum itu, petani Papua Barat Daya menyatakan kesiapan terlibat langsung dalam pengelolaan lahan pertanian baru yang dibuka pemerintah.

Eliyeser Smi, petani asal Papua Barat Daya, mengatakan masyarakat di wilayahnya menyambut positif program tersebut karena dinilai membuka peluang peningkatan pendapatan melalui pertanian. Ia menilai keterlibatan masyarakat lokal menjadi faktor penting agar manfaat ekonomi dari pengembangan sawah baru dapat dirasakan lebih luas sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Dukungan serupa juga disampaikan Bernadus Yewe, petani padi asal Kabupaten Sorong, yang berharap bantuan pemerintah kepada kelompok tani terus diperkuat. Menurutnya, tambahan dukungan itu penting untuk memperluas lahan tanam dan meningkatkan keberhasilan usaha tani padi.

Sementara itu, Bupati Sorong Selatan Petronela Krenak melaporkan kesiapan penanaman di lahan 1.440 hektare, lalu sisa 3.200 hektare dari 2025 yang dikerjakan pada 2026, serta tambahan sekitar 5.000 hektare yang telah disiapkan untuk tahun 2026. Pemerintah kabupaten juga mengusulkan pengembangan komoditas unggulan lain seperti kelapa, kakao, ubi jalar, dan sagu.

Infrastruktur jadi kunci dampak ekonomi daerah

Eliyeser menekankan bahwa pembangunan infrastruktur pertanian, terutama akses jalan menuju kawasan produksi, perlu dipercepat agar distribusi hasil panen berjalan lancar. Menurutnya, keberlanjutan program cetak sawah sangat bergantung pada kemampuan petani menghubungkan sentra produksi dengan pasar.

Menanggapi aspirasi tersebut, Menteri Pertanian Amran Sulaiman memastikan dukungan pemerintah untuk pengembangan pertanian di Papua Barat Daya terus diperkuat. Ia menyetujui tambahan pengembangan kelapa seluas 100 hektare di Kabupaten Sorong Selatan dan meminta jajaran teknis kementerian menindaklanjuti usulan pengembangan komoditas pangan lokal yang dinilai berpotensi besar bagi ketahanan pangan masyarakat Papua.

Amran juga meminta seluruh bantuan dan program yang telah dialokasikan segera dipercepat realisasinya agar manfaatnya cepat dirasakan petani dan masyarakat. Dukungan petani serta pemerintah daerah dinilai menjadi modal penting bagi percepatan pembangunan pertanian di Papua Barat Daya, dengan dampak yang diharapkan berupa penguatan ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang Forum Menteri Pertanian BRICS 2026 di Indore, kami membahas peluang Indonesia mempercepat modernisasi pertanian dan memperkuat ketahanan pangan melalui deklarasi bersama. Pembahasan mencakup kolaborasi riset dan teknologi, pemanfaatan pertanian digital (termasuk AI dan pemantauan satelit), serta opsi pembiayaan dan perluasan akses pasar untuk mendukung produktivitas dan keberlanjutan sektor pertanian.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.