Papua dorong perluasan sawah, pejabat pastikan lahan tak masuk hutan lindung

Papua dorong perluasan sawah, pejabat pastikan lahan tak masuk hutan lindung
Sawah Papua tanpa hutan

Program pengembangan sawah di Papua kini ditegaskan memakai lahan di luar kawasan hutan yang telah lama tidak produktif, di tengah sorotan atas dampaknya terhadap lingkungan dan hak masyarakat. Pemerintah daerah dan Kementerian Pertanian juga menyatakan pengembangan pangan di wilayah itu tetap harus berjalan seiring dengan penguatan komoditas lokal seperti sagu, ubi, dan kakao.

Sorotan

  • Pemerintah Kabupaten Sorong mendorong perluasan sawah serta komoditas lokal seperti kakao, ubi, dan sagu untuk memperkuat ketahanan pangan.
  • Kementerian Pertanian akan mengkaji usulan daerah agar pengembangan pertanian di Papua seimbang antara peningkatan produksi dan penguatan komoditas lokal.
  • Program pertanian produktif dan berkelanjutan di Papua menekankan pemanfaatan lahan tersedia, penghormatan hak masyarakat, serta penguatan pangan lokal.

Dukungan komoditas lokal dan dampak bagi daerah

Selain perluasan sawah, Pemerintah Kabupaten Sorong mendorong penguatan komoditas unggulan yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga. Sutejo mengatakan Sorong pernah menjadi salah satu sentra kakao di Papua, sementara sejumlah desa juga dikenal sebagai sentra ubi yang memasok kebutuhan pangan Kota Sorong dan wilayah sekitarnya.

Pemerintah daerah turut mengusulkan pengembangan sagu sebagai bagian dari ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Menanggapi hal itu, Amran menegaskan pembangunan pertanian di Papua tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pangan nasional, tetapi juga harus memberi ruang pada tanaman lokal seperti ubi jalar, ubi kayu, dan sagu yang dinilai strategis bagi keberlanjutan sistem pangan setempat.

Kementerian Pertanian menyatakan akan mengkaji usulan dari pemerintah daerah agar pengembangan pertanian di Papua berjalan seimbang antara peningkatan produksi dan penguatan komoditas lokal. Dukungan atas program itu juga datang dari petani asal Sorong Selatan, Otto Saman, yang menyatakan manfaat program mulai dirasakan masyarakat, termasuk kemajuan akses pembangunan dan harga kebutuhan yang dinilai lebih murah.

Melalui rapat konsolidasi tersebut, pemerintah pusat dan daerah terus memperkuat agenda pertanian produktif dan berkelanjutan di Papua dengan menekankan pemanfaatan lahan tersedia, penghormatan terhadap hak masyarakat, dan penguatan pangan lokal.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pengembangan pangan di Papua Selatan, kami mengulas penegasan pemerintah bahwa program tersebut merupakan bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Program ini dijalankan di lahan milik warga dengan dukungan alat, benih unggul, irigasi, dan pendampingan budidaya, yang disebut mendorong kenaikan produktivitas serta tetap memberi ruang bagi komoditas lokal seperti sagu dan ubi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.