Ashutosh Sureka

DPR menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2027 bergantung pada daya beli rumah tangga

DPR menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2027 bergantung pada daya beli rumah tangga
Ekonomi 2027 Bergantung Konsumsi

Pembahasan kerangka ekonomi makro 2027 menempatkan konsumsi rumah tangga sebagai faktor utama dalam menjaga laju pertumbuhan Indonesia. Di tengah target pertumbuhan 5,8 persen hingga 6,5 persen pada 2027, DPR mengingatkan pelemahan daya beli dapat menghambat pencapaian sasaran fiskal dan ekonomi.

Sorotan

  • Banggar DPR RI menyepakati target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2027 di kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen, namun menegaskan pencapaian sangat bergantung pada daya beli rumah tangga.
  • Target defisit APBN 2027 ditetapkan pada 1,8 persen hingga 2,40 persen PDB, di bawah batas maksimal 3 persen, dengan belanja negara sekitar 13 persen PDB.
  • Asumsi makro 2027 meliputi pertumbuhan ekonomi 5,80–6,50 persen, inflasi 1,50–3,50 persen, rupiah Rp 16.800–17.500 per dolar U.S., dan yield SBN 10 tahun 6,50–7,30 persen.

Kesepakatan asumsi fiskal dan peringatan DPR

Seperti dilaporkan Kompas.com, Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah mengingatkan pemerintah agar tidak hanya berfokus pada indikator makro setelah Banggar menyepakati hasil Panitia Kerja Asumsi Dasar Kebijakan Fiskal, Defisit, dan Pembiayaan untuk KEM PPKF 2027. Ia menyatakan target pertumbuhan ekonomi 5,8 persen hingga 6,5 persen akan sulit tercapai jika daya beli masyarakat turun, karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian nasional.

Kesepakatan tersebut akan dibawa sebagai bahan nota pengantar dalam penyusunan RAPBN 2027. Nota keuangan RAPBN 2027 dijadwalkan disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato pada 16 Agustus mendatang.

Menurut Said, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,8 persen hingga 6,5 persen pada 2027 dengan tetap menjaga disiplin fiskal dan memperkuat reformasi struktural. Sasaran itu disiapkan sebagai pijakan menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029.

Dampak pada penerimaan negara dan stabilitas ekonomi

Said menjelaskan konsumsi rumah tangga masih berkontribusi sekitar 60 persen hingga 65 persen terhadap perekonomian nasional. Karena itu, pelemahan daya beli dinilai dapat langsung mengganggu pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang sudah disusun pemerintah dan DPR.

Di sisi fiskal, target defisit APBN 2027 disepakati pada kisaran 1,8 persen hingga 2,40 persen terhadap produk domestik bruto, masih di bawah batas maksimal 3 persen. Dengan target defisit sekitar 2 persen dan belanja negara pada kisaran 13 persen terhadap produk domestik bruto, Said mengingatkan pemerintah perlu lebih kreatif meningkatkan penerimaan negara agar defisit tetap terjaga.

Asumsi dasar ekonomi makro 2027 yang disepakati meliputi pertumbuhan ekonomi 5,80 persen hingga 6,50 persen, inflasi 1,50 persen hingga 3,50 persen, nilai tukar rupiah Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar U.S., serta suku bunga surat berharga negara tenor 10 tahun sebesar 6,50 persen hingga 7,30 persen.

Dalam ulasan kami sebelumnya tentang proyeksi kenaikan subsidi listrik dalam RAPBN 2027, kami menyoroti bagaimana tekanan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah dapat mendorong kebutuhan anggaran subsidi energi. Pemerintah memproyeksikan subsidi listrik 2027 di kisaran Rp113,45 triliun–Rp122,83 triliun dengan asumsi ICP USD70–USD95 per barel dan kurs sekitar Rp17.100 per dolar AS, disertai proyeksi volume BBM bersubsidi yang juga meningkat. Gambaran ini menjadi konteks penting ketika DPR dan pemerintah menyepakati asumsi makro, defisit, serta pembiayaan KEM-PPKF 2027 karena risiko energi bersubsidi dapat ikut menekan ruang fiskal.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.