Rupiah ditutup melemah setelah BI menaikkan suku bunga acuan

Rupiah ditutup melemah setelah BI menaikkan suku bunga acuan
Rupiah melemah usai BI naikkan suku bunga

Pergerakan pasar valuta asing domestik berada di bawah tekanan pada akhir perdagangan Kamis, ketika rupiah ditutup turun 32 poin ke Rp17.794 per dolar U.S. Pelemahan ini terjadi setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate 25 basis poin menjadi 5,75 persen, di tengah pengaruh sentimen eksternal dari pasar energi dan arah kebijakan Federal Reserve.

Sorotan

  • Rupiah ditutup melemah setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
  • Optimisme atas kesepakatan U.S.-Iran mengenai Selat Hormuz menekan kekhawatiran pasokan minyak dan menurunkan permintaan emas sebagai lindung nilai.
  • Federal Reserve mempertahankan suku bunga di 3,50-3,75 persen dan memberi sinyal kemungkinan pengetatan lebih lanjut, menopang dolar dan menekan mata uang negara berkembang.

Sentimen suku bunga dan faktor eksternal

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, pelemahan rupiah berlangsung bersamaan dengan keputusan Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Langkah itu muncul ketika pasar juga mencermati perkembangan global yang memengaruhi pergerakan dolar dan minat investor terhadap aset berisiko.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu sentimen eksternal berasal dari optimisme seputar kesepakatan U.S.-Iran, yang diharapkan meredakan ketegangan di Timur Tengah dan membuka jalan bagi pemulihan jalur ekspor energi utama. Dalam risetnya di Jakarta pada Kamis (18/6/2026), ia menulis bahwa memorandum 14 poin itu memulai periode negosiasi 60 hari, di mana Iran akan mengizinkan lalu lintas bebas bea melalui Selat Hormuz, serta menargetkan pemulihan lalu lintas di selat tersebut ke kapasitas penuh dalam 30 hari.

Perjanjian itu membantu meredakan kekhawatiran atas guncangan pasokan minyak yang berkepanjangan. Kondisi tersebut mengurangi kekhawatiran terhadap inflasi yang didorong energi dan turut memengaruhi permintaan emas sebagai lindung nilai portofolio.

Dukungan dolar dari sikap Federal Reserve

Di sisi lain, penguatan dolar membatasi ruang gerak mata uang negara berkembang setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50-3,75 persen pada Rabu. Bank sentral U.S. itu juga memberi sinyal para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk kebijakan moneter yang lebih ketat pada akhir tahun ini.

Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga pada 2026, berubah dari ekspektasi awal tahun. Dalam pertemuan pertamanya sebagai ketua The Fed, Kevin Warsh mempertahankan sikap tegas terhadap inflasi dan menekankan komitmen bank sentral untuk memulihkan stabilitas harga.

Federal Reserve juga menaikkan perkiraan inflasinya, yang mendorong investor mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga. Kombinasi sinyal suku bunga tinggi di U.S. dan penyesuaian kebijakan BI itu membuat pasar tetap sensitif terhadap arus modal dan pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Kenaikan BI Rate menjadi 5,75% pada RDG 17–18 Juni 2026 pernah kami ulas sebagai langkah pengetatan moneter untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga inflasi 2026–2027 tetap dalam sasaran. Dalam artikel tersebut, kami juga mencatat BI sekaligus menaikkan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility, yang berpotensi mendorong naik biaya dana perbankan serta suku bunga kredit di tengah tekanan eksternal.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.