NTB siapkan Sensus Ekonomi 2026 untuk memetakan dampak Mandalika dan Rinjani

NTB siapkan Sensus Ekonomi 2026 untuk memetakan dampak Mandalika dan Rinjani
Dampak ekonomi Mandalika-Rinjani

Nusa Tenggara Barat dalam beberapa tahun terakhir berkembang sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan Indonesia Tengah dan Timur, ditopang aktivitas usaha dari pariwisata hingga pertanian. Sensus Ekonomi 2026 dijadwalkan berlangsung pada 15 Juni hingga 31 Agustus 2026 untuk merekam perubahan struktur usaha di provinsi tersebut secara menyeluruh.

Sorotan

  • Sensus Ekonomi 2026 di NTB akan memetakan aktivitas 658 ribu unit usaha, naik hampir 60 ribu usaha dari sepuluh tahun lalu.
  • Pertumbuhan produksi padi NTB mencapai 14,51 persen pada 2025, menjadi peringkat kedua tertinggi di kawasan Indonesia Tengah dan Timur.
  • Lebih dari 500 pemangku kepentingan mendukung SE2026, yang hasilnya akan menjadi dasar kebijakan dan pemetaan potensi sektor unggulan NTB.

Cakupan sensus dan profil ekonomi NTB

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di NTB diarahkan untuk memotret secara lengkap aktivitas usaha yang tumbuh seiring perkembangan KEK Mandalika dan daya tarik wisata Gunung Rinjani. Pendataan itu mencakup sektor pariwisata, transportasi, akomodasi, perdagangan, ekonomi kreatif, hingga pertanian yang juga menjadi salah satu andalan daerah.

Pada 2025, produksi padi NTB tercatat menjadi yang kedua tertinggi di kawasan Indonesia Tengah dan Timur, dengan pertumbuhan 14,51 persen. Dalam sambutannya, Wakil Kepala Badan Pusat Statistik, Sonny Harry Budiutomo Harmadi, menyatakan sensus ekonomi menjadi instrumen strategis untuk memotret kondisi dan perkembangan aktivitas usaha di daerah secara lengkap, tanpa menggunakan APBD.

Ia juga menyebut pada 2026 terdapat 658 ribu unit usaha di NTB, naik hampir 60 ribu usaha dalam sepuluh tahun terakhir. Angka itu menunjukkan perluasan basis usaha yang menjadi salah satu fokus pengukuran dalam sensus sepuluh tahunan tersebut.

Dukungan daerah dan implikasi bagi pelaku usaha

Pencanangan SE2026 digelar di Gedung Gelanggang Pemuda Youth Centre Mataram dan dipimpin Sonny, didampingi Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal. Kegiatan itu juga dihadiri Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani, para bupati dan wali kota se-Pulau Lombok, unsur Forkopimda Provinsi NTB, kepala BPS provinsi dan kabupaten/kota, pimpinan instansi vertikal, pelaku usaha, serta tokoh masyarakat.

Lebih dari 500 tamu undangan hadir dalam kegiatan tersebut, mencerminkan dukungan lintas pemangku kepentingan terhadap pelaksanaan sensus di Bumi Gora. Bagi pelaku usaha dan pemerintah daerah, hasil pendataan ini berpotensi menjadi dasar penyusunan kebijakan, pemetaan potensi sektor unggulan, serta evaluasi dampak pengembangan kawasan wisata dan pertumbuhan usaha regional.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di NTB, kami membahas dimulainya pendataan door-to-door yang menjangkau sekitar 658.000 unit usaha sepanjang 15 Juni–31 Agustus 2026. Kami juga menyoroti bagaimana data sensus ini diproyeksikan menjadi pijakan kebijakan, dengan pertumbuhan usaha yang didorong pariwisata (termasuk KEK Mandalika dan kawasan Rinjani), ekonomi kreatif, serta peran pertanian yang tetap kuat lewat kenaikan produksi padi 2025.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.