DPK perbankan Indonesia tumbuh 10,8% pada Mei 2026, CASA menopang penghimpunan dana

DPK perbankan Indonesia tumbuh 10,8% pada Mei 2026, CASA menopang penghimpunan dana
DPK bank naik 10,8%

Penghimpunan dana perbankan di Indonesia menguat lagi pada Mei 2026 seiring kenaikan dana pihak ketiga menjadi Rp 9.698,7 triliun. Percepatan ini terutama didorong giro dan tabungan, sementara deposito masih mencatat laju pertumbuhan yang lebih lambat.

Sorotan

  • DPK perbankan Indonesia tumbuh 10,8% year-on-year menjadi Rp 9.698,8 triliun pada Mei 2026, ditopang peningkatan CASA, khususnya giro naik 20,4%.
  • DPK korporasi tumbuh 18,6% year-on-year menjadi Rp 5.012,3 triliun pada Mei 2026, sementara DPK perorangan hanya naik 3,5% menjadi Rp 4.203,3 triliun.
  • DPK valas naik 17,8% year-on-year ke Rp 1.585,1 triliun, didorong simpanan berjangka valas naik 27,9% dan tabungan valas tumbuh 29,9%.

Rincian pertumbuhan dana per Mei 2026

KONTAN melaporkan, data Bank Indonesia menunjukkan DPK perbankan tumbuh 10,8% secara tahunan pada Mei 2026, lebih tinggi dari pertumbuhan 9,5% pada April 2026. Kenaikan ini ditopang dana murah atau current account saving account, terutama giro yang tumbuh 20,4% secara tahunan dari 15,9% pada bulan sebelumnya, serta tabungan yang naik 10,2% dari 8,9% pada April 2026.

Di sisi lain, simpanan berjangka atau deposito tumbuh 3,5% secara tahunan hingga Mei 2026, melambat dari 4,6% pada April 2026. Secara nominal, total giro tercatat Rp 3.219,6 triliun, tabungan Rp 3.165,1 triliun, dan simpanan berjangka Rp 3.314 triliun.

Berdasarkan jenis mata uang, DPK rupiah tumbuh 9,6% secara tahunan menjadi Rp 8.113,7 triliun pada Mei 2026. DPK valas tumbuh lebih tinggi, yakni 17,8% secara tahunan menjadi Rp 1.585,1 triliun, terutama ditopang simpanan berjangka valas yang naik 27,9% menjadi Rp 459 triliun dan tabungan valas yang tumbuh 29,9% menjadi Rp 260,9 triliun, sementara giro valas naik tipis 1% menjadi Rp 873,2 triliun.

Dana korporasi jadi penopang utama

Dari sisi segmen nasabah, penghimpunan dana korporasi masih menjadi penopang utama pertumbuhan DPK perbankan. DPK korporasi tumbuh 18,6% secara tahunan menjadi Rp 5.012,3 triliun pada Mei 2026, lebih tinggi dari pertumbuhan 16,2% pada April 2026.

Sementara itu, DPK perorangan tumbuh 3,5% secara tahunan menjadi Rp 4.203,3 triliun, sedikit naik dari 3% pada bulan sebelumnya. Adapun DPK dari kelompok nasabah lainnya tercatat tumbuh 3,5% secara tahunan menjadi Rp 483,1 triliun, menunjukkan penguatan penghimpunan dana masih bertumpu pada segmen korporasi di tengah perlambatan deposito.

Dalam artikel kami sebelumnya tentang pengetatan likuiditas perbankan, kami menyoroti kenaikan loan to deposit ratio (LDR) industri ke 86,8% pada April 2026 seiring perlambatan pertumbuhan dana pihak ketiga dan meningkatnya ketidakpastian global. Kami juga membahas bagaimana kenaikan BI Rate dan persaingan dana mendorong biaya dana naik, sehingga bank memperkuat strategi penghimpunan CASA serta lebih selektif dalam penyaluran kredit hingga akhir 2026.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.