Indonesia hentikan impor beras, jagung, dan gula saat dorong swasembada pangan
Pemerintah menyatakan penghentian impor beras, jagung, dan gula menjadi capaian penting dalam penguatan ketahanan pangan nasional. Langkah ini dibarengi upaya bertahap untuk memperbaiki benih, sarana produksi, dan irigasi agar swasembada pangan lebih kokoh hingga 2029.
Sorotan
- Indonesia menghentikan impor beras, jagung, dan gula sambil memperkuat swasembada pangan dan membenahi sektor produksi serta irigasi.
- Pemerintah menargetkan revitalisasi irigasi secara bertahap hingga 2029 untuk mendukung ketahanan pangan nasional di bawah komitmen Presiden Prabowo Subianto.
- Langkah penghentian impor dan peningkatan infrastruktur agrikultur berpotensi memperkuat pasokan pangan strategis bila pembenahan berjalan konsisten di seluruh wilayah.
Penghentian impor dan agenda perbaikan
Seperti diberitakan Okezone Economy Indonesia, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan Indonesia berhasil menghentikan impor sejumlah komoditas pangan strategis, termasuk beras, jagung, dan gula. Ia menyebut capaian itu patut disyukuri sambil pemerintah tetap melanjutkan pembenahan pada sektor yang masih perlu diperbaiki.Menurut Sudaryono, pemerintah terus memastikan ketersediaan benih yang baik dan berkualitas, memperkuat sarana produksi, serta membenahi jaringan irigasi. Ia juga menekankan pembangunan pertanian perlu semakin merata, termasuk di Papua, agar kualitas pengembangan pertanian di berbagai wilayah dapat menyamai provinsi lain.
Dampak bagi ketahanan pangan nasional
Sudaryono menegaskan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan swasembada pangan sebagai bagian dari ketahanan dan kedaulatan bangsa. Dalam kerangka itu, pemerintah terus mempercepat revitalisasi irigasi secara bertahap hingga 2029.Fokus pada irigasi, benih, dan pemerataan pembangunan pertanian menunjukkan bahwa penghentian impor tidak hanya diposisikan sebagai hasil jangka pendek, tetapi juga sebagai dasar penguatan kapasitas produksi domestik. Bagi sektor pertanian Indonesia, langkah ini berpotensi memperkuat pasokan pangan strategis jika perbaikan infrastruktur dan input produksi berjalan konsisten.
Program co-firing biomassa sorgum di PLTU Pelabuhan Ratu yang pernah kami ulas menyoroti pemanfaatan batang dan daun sorgum sebagai bahan bakar pendamping batu bara, sementara bulirnya tetap digunakan untuk mendukung ketahanan pangan. Inisiatif yang berjalan sejak 2025 ini juga menekankan model rantai pasok berbasis masyarakat dengan PLN Indonesia Power sebagai off-taker, serta peluang replikasi ke pembangkit lain untuk mempercepat target net zero emissions dan ekonomi sirkular.
Berita Retirement Policies Terbaru
- Forex
- Crypto