AAUI nilai rasio klaim asuransi kredit yang menembus 102% menekan profitabilitas industri

AAUI nilai rasio klaim asuransi kredit yang menembus 102% menekan profitabilitas industri
Klaim kredit tembus 102%

Tekanan pada lini asuransi kredit berlanjut pada kuartal I-2026 ketika rasio klaim naik menjadi 102% dari 90% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Level di atas 100% menandakan beban klaim sudah melampaui premi yang diterima, sehingga ruang perbaikan kinerja bergantung pada evaluasi tarif, seleksi risiko, dan skema kerja sama dengan penyalur kredit.

Sorotan

  • Rasio klaim asuransi kredit di industri Indonesia naik dari 90% kuartal I-2025 menjadi 102% kuartal I-2026, menekan profitabilitas.
  • AAUI menyebutkan lonjakan rasio klaim memaksa perusahaan asuransi untuk evaluasi tarif premi, syarat pertanggungan, dan struktur kerja sama dengan mitra.
  • Potensi kenaikan premi terbuka selektif terutama pada portofolio berisiko tinggi, sementara pengetatan underwriting dan review portofolio sudah mulai diterapkan sejak awal tahun.

Evaluasi tarif dan struktur kerja sama

Seperti dilaporkan KONTAN, data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia, atau AAUI, menunjukkan rasio klaim asuransi kredit meningkat dari 90% pada kuartal I-2025 menjadi 102% pada kuartal I-2026. Ketua Umum AAUI Budi Herawan menilai kondisi itu menjadi sinyal bahwa lini asuransi kredit masih menghadapi tekanan yang cukup besar dan memerlukan langkah perbaikan yang lebih komprehensif.

Ia mengatakan karakteristik asuransi kredit berbeda dari sejumlah lini asuransi umum lain karena bisnis ini sangat terkait dengan perjanjian kerja sama antara perusahaan asuransi dan mitra seperti perbankan, perusahaan pembiayaan, fintech P2P lending, serta lembaga penyalur kredit lain. Karena itu, penyesuaian premi maupun perubahan terms and conditions tidak selalu bisa dilakukan secara sepihak dan harus dibahas sesuai isi perjanjian yang berlaku.

Budi menambahkan kenaikan rasio klaim menjadi salah satu faktor yang mendorong perusahaan asuransi mengevaluasi tarif premi, syarat pertanggungan, dan kualitas risiko yang diterima. Namun jika loss ratio terus bertahan pada level tinggi, langkah yang dibutuhkan bukan hanya kenaikan premi, tetapi juga pembicaraan bersama dengan mitra untuk meninjau kembali struktur kerja sama.

Dampak bagi pelaku asuransi dan pembiayaan

Pembahasan antara perusahaan asuransi dan mitra, menurut Budi, dapat mencakup perbaikan proses seleksi debitur, pembagian risiko atau risk sharing, penyesuaian premi, pembatasan akseptasi risiko tertentu, perubahan syarat pertanggungan, serta penguatan mekanisme recovery dan subrogasi. Potensi kenaikan premi tetap terbuka, terutama pada portofolio dengan risiko dan klaim tinggi, tetapi penerapannya perlu dilakukan secara selektif, berbasis data, dan mengikuti perjanjian kerja sama yang berlaku.

Sejak awal tahun, beberapa perusahaan asuransi mulai melakukan peninjauan terhadap lini asuransi kredit. Bentuknya tidak selalu berupa kenaikan premi, melainkan juga pengetatan underwriting, evaluasi kualitas portofolio, pembatasan segmen risiko tertentu, penyesuaian terms and conditions, dan pembicaraan ulang dengan mitra kerja sama.

AAUI tidak menetapkan besaran tarif karena kebijakan tersebut berada pada masing-masing perusahaan asuransi, berdasarkan perhitungan aktuaria, profil risiko, historis klaim, dan perjanjian dengan mitra. Besaran penyesuaian juga tidak dapat digeneralisasi karena bergantung pada karakteristik portofolio, jenis kredit, tenor, kualitas debitur, agunan, sektor usaha, dan performa klaim pada setiap kerja sama.

Dalam laporan kami sebelumnya tentang penerapan risk sharing (co-sharing) pada asuransi kredit, kami mengulas bahwa penyesuaian skema ini masih terkendala harmonisasi proses bisnis dan tata kelola antara perusahaan asuransi dan perbankan. Kami juga menyoroti tingginya rasio klaim per April 2026, ketika nilai klaim hampir menyamai premi, sehingga OJK menekankan pentingnya penguatan disiplin underwriting dan manajemen risiko agar dukungan asuransi kredit ke sektor riil tetap berkelanjutan.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.