Bursa Indonesia dan global melemah di tengah pertumbuhan ekonomi yang tetap ekspansif

Bursa Indonesia dan global melemah di tengah pertumbuhan ekonomi yang tetap ekspansif
Bursa melemah, ekonomi kuat

Volatilitas IHSG dalam horizon mingguan, bulanan, dan tahunan mencerminkan tekanan yang juga terjadi di sejumlah bursa saham dunia. Di antara pasar yang tercatat melemah, beberapa negara justru masih membukukan pertumbuhan ekonomi riil di atas rata-rata global 3,2%.

Sorotan

  • Indeks JCI Indonesia turun 5,42% secara mingguan dan 31,95% secara tahunan, terburuk di antara lima pasar utama yang disebut.
  • Sebagian besar negara dengan bursa melemah, seperti Indonesia, India, China, dan Maroko, masih mencatat pertumbuhan PDB di atas rerata dunia 3,2%.
  • Pertumbuhan ekonomi riil kuartal I 2026 mencapai 7,8% untuk India, 5,6% untuk Indonesia, dan 5,0% untuk China serta Maroko.

Pelemahan lintas bursa dan perbandingan kinerja

Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, ekonom InFast Bestari Gede Sandra mencatat pelemahan pasar saham tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di 11 bursa dunia, termasuk Rusia, Hong Kong/China, Afrika Selatan, India, Maroko, Sri Lanka, Ceko, Islandia, dan Kuwait.

Secara mingguan, penurunan terdalam terjadi di bursa Rusia, MOEX, sebesar 9,72%, diikuti Afrika Selatan, SA40, yang turun 6,02%, serta Indonesia, JCI, yang turun 5,42%. Bursa Hong Kong/China, HK50, melemah 3,7%, sementara Maroko, MASI, turun 1,4%.

Untuk periode bulanan, Rusia kembali mencatat penurunan terbesar dengan koreksi 13,65%, disusul Hong Kong, HK50, sebesar 8,54%, Islandia, ICEX, 7,19%, Afrika Selatan, SA40, 6,02%, dan Indonesia, JCI, 5,2%. Secara tahunan, Indonesia mencatat pelemahan terdalam di antara lima pasar utama yang disebut, dengan penurunan 31,95%, diikuti Rusia 18,91%, Hong Kong/China 8,66%, India 8,07%, dan Islandia 7,7%.

Kontras dengan pertumbuhan ekonomi negara terkait

Bestari Gede Sandra menyebut sebagian besar negara yang bursa sahamnya melemah justru tetap mencatat pertumbuhan produk domestik bruto di atas rerata dunia 3,2%. Pengecualian utamanya adalah Rusia yang mengalami kontraksi 0,2% dan Afrika Selatan yang hanya tumbuh 1,9%.

Di sisi lain, India mencatat pertumbuhan ekonomi riil 7,8% pada kuartal I 2026. Indonesia tumbuh 5,6% pada periode yang sama, sementara China dan Maroko masing-masing mencatat pertumbuhan 5,0%.

Tekanan jual di saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi fokus dalam artikel kami sebelumnya, saat aksi jual asing menekan bank-bank jumbo seperti BMRI, BBNI, BBRI, dan BBCA dan ikut membebani pergerakan IHSG. Kami juga menyoroti bagaimana pelemahan rupiah dan BI Rate yang tinggi memperkuat kekhawatiran pasar terhadap kualitas aset serta prospek kredit, meski valuasi perbankan dinilai mulai lebih menarik setelah koreksi.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.