Perdagangan saham di Jakarta dimulai dengan sentimen positif pada Selasa, 7 Juli 2026, saat Indeks Harga Saham Gabungan naik ke level 5.933. Dalam menit awal, penguatan pasar tetap terlihat meski pergerakan sektoral bercampur dan sebagian indeks acuan lain masih melemah.
Sorotan
- IHSG dibuka menguat 0,30 persen ke 5.933, lalu turun tipis ke kenaikan 0,18 persen ke 5.926, dengan 283 saham menguat.
- Nilai transaksi awal perdagangan mencapai Rp354 miliar dengan volume 550 juta lembar saham, LQ45 naik 0,21 persen ke 585.
- Sektor konsumer siklikal, keuangan, infrastruktur, bahan baku, transportasi, industri, dan kesehatan positif, sedangkan energi, teknologi, properti melemah.
Kinerja awal indeks dan transaksi
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, IHSG dibuka menguat 0,30 persen ke level 5.933 pada awal perdagangan hari ini. Semenit kemudian, indeks masih berada di zona hijau dengan kenaikan 0,18 persen ke 5.926, sementara 283 saham menguat, 128 saham melemah, dan 550 saham stagnan.Nilai transaksi awal mencapai Rp354 miliar dengan volume 550 juta lembar saham. Di kelompok indeks utama, LQ45 naik 0,21 persen ke 585, MNC36 menguat 0,32 persen ke 257, dan IDX30 bertambah 0,15 persen ke 331, sedangkan JII turun 0,71 persen ke 347.
Pergerakan sektoral dan saham penggerak
Sektor yang berada di zona hijau meliputi konsumer siklikal, keuangan, infrastruktur, bahan baku, transportasi, industri, dan kesehatan. Di sisi lain, sektor konsumer non siklikal, energi, properti, dan teknologi bergerak melemah pada awal sesi.Tiga saham yang memimpin daftar penguat teratas adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), dan PT Sekar Bumi Tbk (SKBM). Pergerakan ini menunjukkan minat beli masih menopang sebagian besar saham pada pembukaan, meski arah pasar antar sektor belum sepenuhnya seragam.
Dalam ulasan kami sebelumnya tentang penguatan saham perbankan berkapitalisasi besar di awal pekan, kami menyoroti rebound BBRI, BBCA, BBNI, dan BMRI yang didorong valuasi yang kembali menarik setelah koreksi. Kami juga mencatat sentimen membaik dari ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, aksi korporasi, serta selective foreign buying yang membuat strategi akumulasi selektif dinilai lebih relevan dibanding sekadar mengikuti arah indeks.
Berita Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto