Industri fintech lending catat laba Rp 1,08 triliun hingga Mei 2026
Profitabilitas industri fintech peer to peer lending tetap terjaga di tengah pertumbuhan pembiayaan yang masih kuat hingga Mei 2026. Laba sektor ini mencapai Rp 1,08 triliun, sementara laju kenaikannya melambat dibandingkan posisi April meski masih tumbuh 37,43% dari periode yang sama tahun lalu.
Sorotan
- Industri fintech lending mencatat laba Rp 1,08 triliun per Mei 2026, naik 37,43% secara tahunan, namun pertumbuhan melambat dibanding April 2026.
- Outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 103,73 triliun per Mei 2026, tumbuh 25,60% yoy, didorong ekspansi dan pengelolaan portofolio.
- Tingkat kredit macet agregat (TWP90) turun ke 4,42% per Mei 2026, membaik dari April, namun masih lebih tinggi dari Mei 2025.
Kinerja laba dan pembiayaan per Mei 2026
Seperti dilaporkan KONTAN Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan menyatakan industri fintech lending masih membukukan laba sampai Mei 2026. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, mengatakan laba industri fintech lending mencapai Rp 1,08 triliun per Mei 2026 dan naik 37,43% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.Berdasarkan rincian data OJK, kenaikan laba itu lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya. Pada April 2026, laba industri fintech lending tercatat Rp 0,96 triliun atau Rp 960 miliar, dengan pertumbuhan tahunan 71,43%.
Agusman mengatakan perolehan laba ditopang oleh pertumbuhan outstanding pembiayaan serta kemampuan penyelenggara menjaga kualitas portofolio pembiayaan. OJK mencatat outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 103,73 triliun per Mei 2026, atau tumbuh 25,60% secara tahunan.
Kualitas kredit jadi perhatian pengawasan
Di tengah pertumbuhan pembiayaan yang tinggi, OJK mendorong penyelenggara fintech lending tetap menyeimbangkan ekspansi dengan penerapan prinsip kehati-hatian. Regulator juga menekankan penguatan manajemen risiko dan kualitas credit scoring agar mutu portofolio pembiayaan tetap terjaga.Dari sisi risiko, tingkat kredit macet agregat atau TWP90 fintech P2P lending berada di level 4,42% per Mei 2026. Angka itu membaik dari posisi April 2026 yang sebesar 4,62%, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan Mei 2025 yang tercatat 3,19%.
Pergerakan ini menunjukkan industri masih menjaga profitabilitas, namun tekanan kualitas kredit tetap menjadi faktor yang perlu diawasi seiring pertumbuhan penyaluran pembiayaan. Bagi sektor pembiayaan digital di Indonesia, kombinasi pertumbuhan outstanding dan pengendalian risiko akan menjadi penentu keberlanjutan laba ke depan.
Dalam artikel kami sebelumnya tentang kenaikan outstanding pinjaman daring pada Mei 2026, kami mencatat total pembiayaan mencapai Rp103,73 triliun setelah bertambah Rp1,66 triliun dari bulan sebelumnya, dengan pertumbuhan tahunan 25,60% menurut data OJK. Kami juga menyoroti bahwa rasio kredit macet agregat (TWP90) turun ke 4,42% dari 4,62%, mengindikasikan perbaikan kualitas risiko meski penyaluran kredit terus meningkat.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto