Bank Indonesia diproyeksikan masih punya ruang menaikkan BI-Rate hingga 6,25 persen
Tekanan terhadap rupiah dan ketidakpastian sentimen global masih membuka peluang pengetatan moneter lanjutan oleh Bank Indonesia hingga akhir 2026. Proyeksi itu menempatkan BI-Rate berpotensi naik dua kali lagi masing-masing 25 basis poin, meski realisasinya tetap bergantung pada arah volatilitas nilai tukar dan perkembangan tensi politik global.
Sorotan
- Bank Indonesia diproyeksikan masih bisa menaikkan BI-Rate dua kali lagi hingga 6,25 persen sampai akhir 2026, menurut Bank Danamon.
- Keputusan kenaikan BI-Rate sangat bergantung pada volatilitas rupiah dan potensi tekanan global, termasuk tensi politik internasional.
- Dukungan kebijakan fiskal pemerintah dinilai krusial untuk memperkuat efektivitas intervensi moneter Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah.
Proyeksi kenaikan suku bunga hingga akhir 2026
Seperti dilaporkan Okezone Economy Indonesia, ekonom Bank Danamon Irman Faiz menyatakan Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan dua kali lagi hingga mencapai 6,25 persen. Ia menyampaikan proyeksi tersebut dalam media gathering Bank Danamon di Jakarta, Selasa, 14 Juli 2026, dengan asumsi volatilitas rupiah masih menghadapi tekanan.Irman menilai ruang kenaikan itu tidak serta-merta harus digunakan seluruhnya. Menurut dia, keputusan BI akan sangat ditentukan oleh pergerakan nilai tukar rupiah dan kemungkinan munculnya kejutan dari sentimen global.
Ia menambahkan, bila kondisi global kembali memunculkan tekanan, termasuk dari tensi politik yang berlanjut, ruang pengetatan itu kemungkinan digunakan. Namun jika situasi membaik, kebutuhan untuk memanfaatkan seluruh ruang kenaikan suku bunga dinilai berkurang.
Dukungan fiskal dinilai penting bagi stabilitas rupiah
Selain jalur suku bunga, Irman menilai BI sudah mengerahkan berbagai instrumen bauran kebijakan secara intensif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah itu menunjukkan intervensi moneter tetap menjadi bagian penting dalam meredam tekanan pasar keuangan.Meski demikian, ia menekankan stabilitas rupiah tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan moneter. Menurutnya, dukungan kuat dari kebijakan fiskal pemerintah tetap diperlukan agar upaya menjaga nilai tukar berjalan lebih efektif.
Dalam laporan kami sebelumnya tentang pelemahan rupiah ke kisaran Rp18.100 per dolar AS, kami membahas bagaimana ketidakpastian geopolitik dan sentimen eksternal mendorong volatilitas nilai tukar. Kami juga menyoroti proyeksi pergerakan harian rupiah yang diperkirakan tetap fluktuatif, serta pentingnya memantau dampaknya terhadap biaya impor, arus modal, dan stabilitas pasar keuangan domestik.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto