Maybank Indonesia tingkatkan pembiayaan berkelanjutan di Indonesia

Maybank Indonesia tingkatkan pembiayaan berkelanjutan di Indonesia
Maybank dorong pembiayaan hijau

Dalam siaran pers yang dikutip pada Kamis, Maybank Indonesia menyatakan mobilisasi pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp8,24 triliun pada 2025, naik 92,9% dibandingkan 2024. Kenaikan itu dihitung berdasarkan Sustainable Product Framework dan Transition Finance Framework milik Maybank Group yang disebut selaras dengan standar global. Secara akumulatif sejak 2021 hingga 2025, bank tersebut memobilisasi Rp17,31 triliun pembiayaan berkelanjutan, menandai dorongan yang lebih kuat ke pembiayaan transisi ekonomi rendah karbon di Indonesia.

Sorotan

  • Maybank Indonesia menyalurkan pembiayaan hijau Rp4,6 triliun pada 2025, naik dari Rp2,1 triliun tahun sebelumnya, didominasi transportasi ramah lingkungan dan kendaraan listrik.
  • Total pembiayaan berkelanjutan Maybank Indonesia hingga 2025 mencapai Rp21,23 triliun, setara 19,55% dari total kredit, didukung investasi green bonds Rp1,5 triliun dan sustainability-linked financing Rp1,1 triliun.
  • Maybank Indonesia menurunkan emisi karbon operasional sebesar 30,84% dari baseline 2019 dan meningkatkan kesejahteraan lebih dari 400 ribu rumah tangga hingga 2025.

Kontributor utama pembiayaan hijau 2025

Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan mengatakan pertumbuhan tersebut terutama ditopang ekspansi pembiayaan sektor hijau, dengan transportasi ramah lingkungan menjadi penyumbang terbesar. Nilai pembiayaan pada sektor ini mencapai Rp4,6 triliun, naik dari Rp2,1 triliun pada tahun sebelumnya seiring peningkatan dukungan terhadap kendaraan listrik. Menurut dia, penyaluran itu menjadi bagian dari dukungan bank terhadap pengembangan ekosistem kendaraan listrik, baik melalui pembiayaan kendaraan listrik maupun rantai nilai pendukungnya.Pada segmen ritel, penyaluran tersebut turut didukung kolaborasi dengan Maybank Finance dan WOM Finance untuk pembiayaan kendaraan listrik dan hybrid roda empat maupun roda dua. Selain transportasi hijau, Maybank Indonesia juga memobilisasi pembiayaan energi terbarukan sebesar Rp315 miliar. Bank itu juga menyalurkan Rp500 miliar untuk pengelolaan sumber daya alam hayati dan penggunaan lahan berkelanjutan sebagai bagian dari transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Diversifikasi instrumen dan dampak pada portofolio

Maybank Indonesia menyatakan investasinya pada instrumen berkelanjutan, termasuk green bonds atau sukuk, mencapai Rp1,5 triliun pada 2025. Di saat yang sama, penggunaan sustainability-linked financing tercatat Rp1,1 triliun, yang menurut bank memungkinkan pencapaian target keberlanjutan sekaligus memperkuat peran sebagai mitra strategis bagi nasabah. Pada kategori sosial, pembiayaan difokuskan pada pengembangan sosial ekonomi, pemberdayaan, dan penciptaan lapangan kerja dengan total Rp172 miliar.Berdasarkan Kategori Kegiatan Usaha Berkelanjutan, total pembiayaan yang disalurkan hingga 2025 mencapai Rp21,23 triliun, setara 19,55% dari total kredit bank saja. Steffano menyatakan capaian itu mencerminkan komitmen untuk memperluas pembiayaan yang berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Arah tersebut dijalankan sejalan dengan misi Humanising Financial Services dan diperkuat strategi jangka panjang ROAR30 untuk 2026 hingga 2030, yang menempatkan keberlanjutan dan nilai syariah sebagai diferensiasi utama pertumbuhan bank.

Capaian non-keuangan dan implikasi industri

Selain dari sisi pembiayaan, Maybank Indonesia menyebut komitmen keberlanjutannya juga terlihat pada indikator non-keuangan hingga 2025. Bank itu menyatakan telah meningkatkan kesejahteraan lebih dari 400 ribu rumah tangga, menurunkan emisi karbon operasional cakupan 1 dan 2 sebesar 30,84% dari baseline 2019, serta membukukan lebih dari 388 ribu jam kegiatan keberlanjutan. Pencapaian itu juga disebut berkontribusi pada target global Maybank Group dalam memobilisasi pembiayaan berkelanjutan.Bagi industri perbankan Indonesia, kenaikan pembiayaan berkelanjutan ini menunjukkan permintaan pembiayaan terkait transisi energi dan kendaraan listrik terus berkembang. Porsi kredit berkelanjutan yang mendekati seperlima total kredit juga memberi gambaran bahwa instrumen hijau dan pembiayaan berbasis target keberlanjutan semakin menjadi bagian dari strategi bisnis bank. Tren ini menempatkan pembiayaan transisi sebagai area pertumbuhan yang relevan bagi perbankan di tengah dorongan dekarbonisasi ekonomi.

Kami sebelumnya melaporkan kinerja positif industri keuangan syariah pada 2025, ketika OJK mencatat total aset mencapai Rp3.131 triliun atau tumbuh 8,61% secara tahunan di tengah dinamika global. Laporan itu juga merinci penguatan pembiayaan perbankan syariah dan pasar modal syariah, serta menyoroti demografi Muslim yang besar dan digitalisasi sebagai pendorong ruang ekspansi sektor ini.

Materi ini mungkin mengandung opini pihak ketiga, tidak ada data dan informasi di halaman web ini yang merupakan nasihat investasi menurut Disclaimer kami. Meskipun kami mematuhi Integritas Editorial yang ketat, postingan ini mungkin mengandung referensi ke produk dari mitra kami.