BTN memproyeksikan BI-Rate bertahan di 5,75% hingga akhir tahun untuk menjaga stabilitas
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia ke level 5,75% memperlihatkan penekanan bank sentral pada stabilitas makroekonomi saat ketidakpastian global masih tinggi. BTN menilai ruang kenaikan lanjutan semakin terbatas, dengan arah kebijakan berikutnya sangat bergantung pada pergerakan rupiah, inflasi domestik, harga energi global, dan arus modal internasional.
Sorotan
- Kenaikan BI-Rate 25 basis poin pada Juni 2026, total naik 100 basis poin sepanjang 2026, ditujukan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mencegah imported inflation.
- Penyerapan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai sekitar Rp 43 triliun dengan imbal hasil di atas 7%, menunjukkan instrumen moneter BI tetap efektif stabilkan pasar keuangan domestik.
- BTN memproyeksikan BI-Rate bertahan di 5,75% hingga akhir 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,17%, inflasi 3,09%, dan pertumbuhan kredit industri perbankan di bawah 9%.
Proyeksi suku bunga dan pertimbangan kebijakan
Kontan melaporkan, Chief Economist PT Bank Tabungan Negara Tbk Myrdal Gunarto menilai kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin terutama ditujukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang masih menghadapi tekanan eksternal. Dengan kenaikan terbaru itu, BI-Rate telah naik total 100 basis poin sepanjang 2026, meski secara kumulatif masih lebih rendah dibandingkan pemangkasan 125 basis poin yang dilakukan BI sepanjang tahun lalu.Dalam risetnya pada Kamis, 18 Juni, Myrdal mengatakan BI juga mewaspadai risiko imported inflation akibat pelemahan nilai tukar yang dapat mendorong kenaikan biaya produksi domestik. Ia menilai arah kebijakan moneter turut dipengaruhi oleh dinamika likuiditas domestik dan eksternal, termasuk risiko pelebaran defisit transaksi berjalan, kebutuhan devisa untuk impor energi, pembayaran dividen korporasi, serta pergerakan arus modal global.
Menurut dia, langkah kenaikan suku bunga juga menjadi bagian dari strategi untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah perubahan arah kebijakan moneter global. BTN memperkirakan BI berpotensi mempertahankan BI-Rate di level 5,75% hingga akhir tahun jika tekanan eksternal mulai mereda dan harga minyak dunia tetap terkendali.
Dampak ke pasar keuangan dan pertumbuhan kredit
Di tengah kondisi tersebut, minat investor terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia masih dinilai kuat. Hal itu tercermin dari penyerapan SRBI sekitar Rp 43 triliun dengan tingkat imbal hasil di atas 7%, yang menurut Myrdal menunjukkan instrumen moneter BI masih efektif dalam mendukung stabilitas pasar keuangan domestik.Kondisi itu dinilai memberi ruang bagi BI untuk menjaga stabilitas likuiditas dan nilai tukar jika volatilitas global kembali meningkat. BTN memperkirakan imbal hasil Surat Berharga Negara tenor pendek masih bertahan di atas 7% dalam jangka pendek, sementara yield Surat Utang Negara tenor 10 tahun diproyeksikan bergerak pada kisaran 6,87% hingga 7,41%.
Dengan asumsi BI-Rate bertahan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diproyeksikan mencapai 5,17% dengan inflasi 3,09%. Di sektor perbankan, pertumbuhan kredit diperkirakan lebih moderat, dengan penyaluran kredit industri tahun ini tumbuh di bawah 9%, didorong antara lain oleh sektor ketahanan pangan, transportasi, konstruksi, industri makanan dan minuman, energi, besi dan baja, kelapa sawit, serta properti residensial.
Dalam ulasan kami sebelumnya tentang kenaikan BI-Rate Bank Indonesia ke 5,75% pada 18 Juni 2026, kami menyoroti bahwa pengetatan moneter ini dilakukan di tengah tekanan global yang masih tinggi dan ruang penurunan suku bunga yang dinilai terbatas hingga akhir 2026. Kami juga membahas dampaknya terhadap likuiditas perbankan serta potensi kenaikan biaya dana dan suku bunga kredit, seiring kebutuhan BI menjaga daya tarik aset domestik dan stabilitas rupiah.
Berita Bank Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto