DPR dorong optimalisasi pasokan pangan domestik untuk belanja haji dan umrah Rp 60 triliun
Belanja konsumsi jemaah haji dan umrah Indonesia dinilai membuka peluang besar bagi sektor pangan nasional di tengah tingginya kebutuhan katering di Arab Saudi. Dengan total nilai yang disebut mencapai lebih dari Rp 60 triliun per tahun, Timwas Haji DPR menilai arus belanja itu belum memberi dampak maksimal bagi petani, nelayan, UMKM, dan koperasi dalam negeri.
Sorotan
- DPR mendorong optimalisasi pemanfaatan produk pangan Indonesia untuk konsumsi 221 ribu jemaah haji 2026 senilai sekitar Rp 18,2 triliun.
- Nilai ekonomi konsumsi jemaah haji dan umrah Indonesia diperkirakan melebihi Rp 60 triliun per tahun, menciptakan peluang pasar domestik besar.
- Pasokan bahan pangan katering haji masih didominasi impor dari Thailand, Vietnam, Brasil, dan Timur Tengah, sehingga DPR menekan penguatan produk lokal.
Peluang pasar katering haji 2026
Seperti dilaporkan Kompas.com, anggota Tim Pengawas Haji DPR 2026 Nurdin Halid meminta optimalisasi pemanfaatan produk pangan Indonesia untuk konsumsi jemaah haji dan umrah selama berada di Arab Saudi. Ia menyebut kebutuhan konsumsi 221 ribu jemaah haji Indonesia pada 2026 saja bernilai sekitar Rp 18,2 triliun.Nurdin mengatakan angka itu berasal dari kebutuhan 2,78 juta boks makanan katering untuk 111 kali makan per orang selama 40 hari, yang dikelola oleh 75 dapur di Mekkah dan Madinah. Biaya katering jemaah haji 2026 ditetapkan 40 riyal per hari, atau sekitar Rp 180.000 dengan kurs Rp 4.500 per riyal.
Menurut dia, jika digabung dengan sekitar 1,7 juta jemaah umrah, nilai ekonomi konsumsi haji dan umrah mencapai lebih dari Rp 60 triliun per tahun. Ia menilai besarnya perputaran belanja itu seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi rakyat dan ekonomi nasional.
Ketergantungan impor dan dampak bagi industri pangan
Nurdin menyoroti pasokan bahan pangan untuk katering jemaah haji Indonesia masih banyak bergantung pada produk dari Thailand, Vietnam, Brasil, serta negara-negara di kawasan Timur Tengah. Padahal, dapur penyedia fresh food di Arab Saudi umumnya memperoleh komoditas pokok seperti beras, daging, ayam, dan ikan melalui importir yang bekerja sama dengan berbagai negara pemasok.Karena itu, ia mendorong pengelolaan sektor logistik dan katering haji dan umrah dengan strategi ekonomi yang lebih berpihak pada produk rakyat dan industri pangan nasional. Menurut Nurdin, momentum haji semestinya menciptakan efek berganda bagi pelaku usaha nasional karena Indonesia memiliki produk petani, peternak, nelayan, UMKM, dan koperasi yang dinilai mampu memasok kebutuhan katering, mulai dari beras, sayur, lauk-pauk, hingga bumbu dapur.
Pengadaan 1.098 sapi kurban Presiden untuk Idul Adha 2026 menjadi contoh dorongan pemerintah untuk menyerap pasokan dari peternak lokal di seluruh Indonesia, dengan total anggaran sekitar Rp 100 miliar. Dalam ulasan kami sebelumnya, skema distribusinya mencakup penyaluran ke pemerintah daerah serta lembaga sosial dan keagamaan, sekaligus memberi sinyal dukungan bagi kemandirian rantai pasok daging sapi nasional.
Berita Indonesia Terbaru
- Forex
- Crypto